Tampilkan postingan dengan label cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cermin. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2012

PERCAYA DIRI

Kepercayaan diri seseorang merupakan hasil dari kemampuan kita membaca dan berbicara pada diri sendiri. Dari kemampuan itulah, kita bisa memiliki sikap yang disebut dengan percaya diri. Dan dari situ juga, kemudian kita dapat berkembang dengan kepercayaan diri.
Proses seseorang dapat membaca dan berbicara pada diri sendiri, berawal dari kesadaran ketika kita merasa bersalah. Di saat kita merasa bersalah, rekaman alam sadar dan bawah sadar kita pun mulai menggentayangi diri kita. Disini lah, kata hati kita berbicara dan mengoreksi apa kesalahan kita. Jika kita terlalu banyak mengkritik diri biasanya akan menyebabkan kita tidak percaya diri lagi karena selalu menyalahkan diri kita sendiri. Lain halnya, kalau kita melepaskan belenggu tersebut dan tetap memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Karena dengan percaya diri yang tinggi, kita tidak akan terlalu khawatir dengan masalah yang menimpa kita, lalu kita mempunyai sebuah kemampuan untuk mengambil segala resiko terhadap apapun yang dilakukannya.
Seorang psikolog mengatakan bahwa setiap aspek dalam kehidupan kita baik itu kebahagiaan, kesuksesan, kreatifitas, dan hubungan dengan orang lain tergantung dari sifat percaya diri yang kita miliki. Orang yang memiliki percaya diri akan merasa baik dan terlihat baik, serta menjadi manusia yang efektif dan produktif.
Dengan percaya kita dapat menghormati diri sendiri, lalu percaya dengan kemampuan yang kita miliki, kemudian bangga dengan diri sendiri, dan dapat mengambil dan memutuskan sesuatu tanpa ragu-ragu.
Lalu, bagaimana cara membangun rasa kepercayaan diri itu?
Jawabannya adalah dengan menerima diri kita sendiri tatkala ketika belum berubah. Ketika kita tahu dan bisa menerima, maka kita akan merasa lebih baik. Setelah kita merasa lebih baik, maka kita dapat melakukan banyak hal yang positif tentunya.
Maka dari itu, marilah kita membangun rasa percaya diri kita dan jangan pernah malu dengan kemampuan yang kita miliki. Raihlah kesuksesan dengan memiliki kemampuan, potensi, bakat, dan percaya diri (Come On). (Mauludi Rismoyo)

Kamis, 16 Februari 2012

Pemimpin

Pemimpin merupakan seorang tokoh yang dipercaya oleh rakyat untuk memimpin suatu tempat. Seorang pemimpin memang merupakan orang dengan jabatan tertinggi di suatu tempat. Lalu, apakah dengan dia yang punya jabatan tinggi bisa semaunya menjalankan roda organisasi dengan kemauannya dia saja tanpa mempedulikan rakyatnya? Tentu saja jawabannya, TIDAK. Bagaimana pun seorang pemimpin itu seharusnya bisa melayani umatnya. Kepeduliannya terhadapa rakyat haruslah lebih tinggi ketimbang ego yang ia punya layaknya sebagai pemimpin.
Sebelum ia terpilih menjadi pemimpin, ia pasti punya segudang rencana untuk dapat terpilih atau mempromosikan dirinya menjadi seorang pemimpin didalam tempatnya. Rakyat pun menimbang dan memilih mana pemimpin yang layak dipilih untuk menjadi pemimpin mereka. Ketika sudah ada yang terpilih dan layak menjadi pemimpin maka ia harus melaksanakan dan menjalankan amanah dan pekerjaan rumah tersebut dengan baik, jujur, dan memuaskan rakyat. Apabila hal itu tidak dilakukan, maka kelak Allah SWT akan mempertanyakan kepemimpinannya tersebut di hari akhir.
Lalu, apakah hanya orang yang mempunyai gelar tertinggi dalam pendidikannya yang bisa menjadi seorang pemimpin? Dan jawabannya, TIDAK. Sesungguhnya disaat kita lahir ke dunia ini pun, kita semua sudah dibekali jiwa kepemimpinan oleh Allah SWT.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman kepada para Malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah:30).
Di dalam ayat tersebut dibeberkan secara jelas, kalau sesungguhnya manusia itu adalah khalifah dan seorang khalifah itu adalah seorang pemimpin. Dan di ayat tersebut pun malaikat pernah memberi sebuah argumentasi kepada Allah, akan tetapi Allah menegaskan kembali kalau sesungguhnya manusia itu adalah seorang khalifah atau pemimpin yang ditugaskan oleh Allah SWT untuk membuat dunia ini menjadi tentram dan sejahtera.
Siapakah pemimpin yang patut kita contoh? Jawabanya adalah Nabi Muhammad SAW. Di dalam buku “100 Orang yang Berperan Besar di Dunia” pun mencantumkan nama paling pertama dan di posisi teratas sebagai orang yang berperan besar di dunia adalah Nabi Muhammad SAW. Dan memang hanya Dia orang yang patut kita contoh sebagai pemimpin.
Rasulullah SAW merupakan pemimpin yang tangguh. Sifatnya yang pantang menyerah dalam menyebarkan agama Islam ke seluruh kaum di tempat tinggalnya adalah salah satu dari beberapa sifat positif yang Dia miliki.
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.” (Ibrahim:24-25).
Dalam ayat tersebut menjelaskan ataupun bisa dibilang jika kita ingin menjadi seorang pemimpin yang tangguh seperti Rasulullah SAW harus diibaratkan seperti pohon yang akar, batang, dan buahnya seimbang. Andai kata, akar itu sebagai akidah atau ikatan kita terhadap Allah SWT yang telah menjadikan kita sebagai pemimpin di dunia ini; lalu, batang sebagai ibadah atau amalan kita kelak kita menjalankan sebuah roda organisasi yang dijalankan oleh seorang pemimpin; dan yang terakhir, ialah buah sebagai hasil atau akhlak seorang pemimpin akan terlihat pada akhirnya.
Dan itu lah yang ada dari diri Rasulullah SAW, Dia pernah dicaci, dimaki, dilempari oleh batu tapi Dia tidak menyerah terhadap keadaan malah Dia lebih semangat lagi karena itu adalah amanat yang diberikan oleh Allah SWT olehnya dan keadaan tersebut yang membuat Dia untuk mencerahkan rakyatnya sehingga menimbulkan sebuah hasil yang positif pada rakyatnya agar terhindar dari jalan yang sesat.
Dan janganlah kamu menjadi pemimpin yang lemah seperti dalam Surat Ibrahim ayat 26: “Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi;tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun”.
So, mulai dari sekarang dan saat ini juga coba tanamkan sifat-sifat positif yang ada dalam diri Rasulullah seperti Sidiq atau benar, Amanah atau dapat dipercaya, Fathonah atau cerdas, Tabligh atau menyampaikan, agar kita bisa menjadi pemimpin yang tangguh dalam berorganisasi maupun tangguh dalam kepercayaan kita kepada Allah. Dan jangan pernah menyerah jika kamu merasa gagal dalam kepemimpinanamu ketika kamu menjadi pemimpin. Tidak ada keberhasilan tanpa kegagalan, dan itu yang terjadi oleh Nabi Muhammad SAW di zamannya.
(Mauludi Rismoyo)   

Minggu, 12 Februari 2012

JAM KARET Sekedar Budaya atau Penyakit Menular???

“Aduh..!! Di mading tertulis jam 8 ternyata sampai jam 9 pun acara belum dimulai juga. Kebangetan!! Kalo gitu mah gue ga usah datang pagi-pagi deh.” Ucap si X.
“Haha.. Udah kebiasaan kali, sob” celetuk si Y.
Gimana rasanya coba jika anda menjadi si X? Pastinya ga enak, kan! Nah inilah budaya yang selama ini katanya sudah melekat erat pada diri masyarakat kita yaitu budaya Jam Karet. Budaya jam karet yang sudah melekat tanpa disadari atau tidak oleh masyarakat Indonesia ini mengarah pada sifat-sifat yang negatif yaitu tidak membangun menuju kemajuan, menunda-nunda pekerjaan, tidak disiplin terhadap peraturan yang sudah berlaku, dan kurang menyadari betapa pentingnya waktu dalam kehidupan sehari-hari kita.
Walaupun sebenarnya masyarakat kita tidak semuanya seperti itu (tepat waktu), tetapi  sayangnya mayoritas masyarakat kita adalah orang yang bertipe seperti ini. Jadi mau tidak mau budaya jam karet ini akan terus melekat erat pada diri kita.
Kalau saja kita bisa memanfaatkan waktu kita tanpa membuangnya percuma, itu akan menjadi lebih baik buat kita. Pekerjaan kita bisa segera terselesaikan sebelum waktunya, urusan kita bisa cepat kelar tanpa tergesa-gesa itu jika kita dapat menghargai waktu semaksimal mungkin. Bayangkan jika kita selalu molor waktu, semuanya bisa tidak maksimal, pikiran bisa saja tak terkoneksi dengan baik akibat capek terlebih dahulu di jalanan.
Saya pernah melihat salah satu video di Youtube, di video itu menggambarkan kehidupan sehari-hari yang dalam video itu menyebutkan kalau dalam sehari ada kurun waktu 8 jam untuk kita melakukan beberapa kegiatan. Bayangkan jika 8 jam itu masih dikurangi lagi dengan kelalaian kita akibat tidak bisa memanage waktu. Kita pun tak tahu berapa menit atau berapa jam kah dalam sehari kita seenaknya mengulur-ulurkan waktu. So, inilah pentingnya peranan kalian untuk bisa memanfaatkan dan memanajemenkan waktu kita dalam sehari.
Lain halnya lagi dengan cerita yang terjadi pada teman saya. Dia adalah mahasiswi perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta Pusat. Sekarang dia semester 3. Dia tipe orang yang tepat waktu. Sewaktu-waktu dia berada di semester 1 dan 2, kampusnya mengadakan seminar ataupun workshop. Dia melihat dengan jelas kapan waktu acara itu akan dimulai. Dia pun datang 15 menit sebelum acara dimulai. Namun perjuangannya yang datang lebih awal dengan harap bisa mendapat pembelajaran yang berharga harus buyar tatkala acara itu ngaret hingga 1 jam. Dan ketika semester 3 ini, apabila kampusnya mengadakan acara seminar atau workshop dia memutuskan unutk datang telat. “Gue ga mau lagi menjadi orang pertama yang datang dan menunggu acara yang diadakan kampus gue, karena gue udah tahu kebiasaan kampus gue” ucapnya.
So, mulai dari sekarang cobalah untuk menghilangkan budaya atau penyakit jam karet ini dan biasakanlah melakukan segala hal dengan tepat waktu. Dengan begitu cap sebagai orang sukses pun bisa ada dan menempel di diri kita, karena orang yang sukses menyadari sekecil apapun waktu itu adalah buah kesuksesan mereka. Maju terus Indonesia-ku janganlah kita sampai tertinggal oleh bangsa-bangsa lain karena hal seperti ini. (MAULUDI RISMOYO)